Pengembangan Wisata Berkelanjutan dari Nyarai dan Sungai Batang Anai

Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around for a while, you could miss it.”

Ferries Bueller

Apa yang bisa kita dapat dari alam? Sumber kehidupan tentunya. Siklus kehidupan manusia yang tidak terlalu lama tak sebanding dengan keberadaan alam yang selalu ada dan memberi banyak manfaat dari dahulu kala, sehingga kita lupa ketika memanfaatkannya tanpa tanggung jawab anak cucu kita lah yang akan merasakan akibatnya. Cuaca yang sudah tidak sesuai musim saat ini contohnya, adalah salah satu dampak dari tidak terjaga nya lingkungan hidup manusia di banyak tempat.

Namun demikian, selalu ada sosok yang bergerak atas kecintaan nya pada lingkungan untuk melestarikannya. Dan percayalah, kegiatan melestarikan alam ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sendirian, namun membutuhkan adanya tekad yang kuat serta niat yang tulus. Hal itu pula lah yang membuatku melangkahkan kaki menuju desa Lubuk Alung untuk bertemu Ritno Kurniawan. Orang yang berada dibalik objek wisata Air Terjun Nyarai, bidadari di tengah hutan Gamaran.

Pagi-pagi sekali aku dan beberapa teman bergegas berangkat menuju Lubuk Alung dari Matur, berbekal google map serta arahan dari bang Ritno, kami sampai di basecamp L.A Rafting di jalan Pasie Laweh. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan yang kontras dari Pekanbaru, kota tempat tinggal kami. Cuaca yang sejuk dan perbukitan yang menurun kami lalui sampai akhirnya satu setengah jam kemudian kami tiba di lokasi yang dituju.

Sekretariat L.A Rafting

Kami menunggu sebentar sambil mengobrol dengan kakak pemilik rumah, ternyata base camp tersebut merupakan rumah salah satu rekan bang Ritno sejak awal mereka menginisiasi program ekowisata di Air Terjun Nyarai. Kawasan desa terlihat sepi kala itu, namun lingkungannya terasa bersih dan nyaman. Bang Ritno pun tiba beberapa saat kemudian, dia baru selesai memberikan materi terkait pengelolaan ekowisata di dinas pariwasata pagi itu. Kami pun berbincang tentang program-program yang beliau gerakkan.

“Air Terjun Nyarai sudah bisa kami lepas saat ini” ujarnya, sudah ada kelompok yang dapat mengelolanya yang terdiri dari warga sekitar dan paket wisata nya juga sudah bertambah. Ternyata bang Ritno tidak berusaha mendominasi program-program wisata yang dibuatnya. Tetapi mengembangkannya dan menjadikannya model usaha yang dapat dikelola oleh masyarakat sendiri. Bahkan kabarnya, penikmat wisata khusus air terjun Nyarai saat ini bukan hanya terdiri dari masyarakat lokal, tetapi juga beberapa kali mendapat kunjungan dari turis asing yang ingin menikmati serunya pengalaman berwisata di Nyarai.

Lalu apa istimewanya L.A Rafting? Tanyaku penasaran. Karena toh wisata menyusuri sungai bukanlah hal baru, dan peminatnya juga orang-orang tertentu yang sepertinya menikmati menyusuri sungai dengan jeram dimana bukanlah hal yang akan diminati oleh orang yang tidak pandai berenang seperti ku. Apalagi ini di desa, memang nya bang Ritno dapat memastikan keamanan dari program wisata yang terbilang dapat memicu adrenalin seperti ini?

L.A Rafting dan Anak Muda Setempat

Berbicara tentang Rafting tidak hanya mengenai serunya berarung jeram di sungai, tetapi akan ada beberapa faktor yang pastinya perlu diperhatikan. Terutama faktor keselamatan yang tak boleh disepelekan, alat yang memadai serta pemandu yang tentunya punya keahlian.

Memutuskan untuk membuat program wisata arung jeram tentunya tak hanya bermodalkan keindahan alam dan sungai saja, faktor keselamatan adalah hal utama yang perlu diperhatikan. Alat yang memadai, rute yang aman, pemandu yang ahli, apalagi rafting adalah kegiatan alam yang banyak menghabiskan waktu di sungai yang memiliki arus dan berbatu. Apakah bisa anak muda setempat dimanfaatkan untuk hal tersebut? Ternyata jawabannya bisa dan bang Ritno sudah membuktikannya.

Base camp yang terlihat sepi ketika kami datang ternyata hanya bagian depannya saja, bagian dalam rumah cukup ramai oleh beberapa pemandu L.A Rafting yang sedang mempersiapkan peralatan untuk tamu yang sudah memesan paket wisata rafting keesokan harinya. Kami pun diajak berkeliling untuk melihat peralatan dan lokasi penyimpanan alat dayung dan perahu.

Saat ini, sudah ada belasan pemandu berlisensi yang terdiri dari pemuda setempat. Bang Ritno menyebutkan, beberapa diantaranya adalah atlit dan kami juga memberikan pelatihan serta sertifikasi untuk mereka yang bersedia menjadi pemandu. Daripada potensi mereka sia-sia saat sedang tidak berkompetisi, maka banyak yang memutuskan untuk menjadi pemandu. Total ada sekitar 17 orang dari pemandu di L.A Rafting yang sudah mengantongi lisensi dari FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) dan sesekali juga mereka mendapat panggilan jika tim penanggulangan bencana daerah membutuhkan tambahan bantuan.

Peraturan & Ketentuan Arung Jeram L.A Rafting


Safety doesn’t happen by accident.

unknown

Hari itu, beberapa pemandu dan juga skipper terlihat sedang mempersiapkan peralatan yang akan digunakan keesokan hari. Ada dua grup dengan total sekitar 150 orang yang akan hadir, mereka terbagi kedalam dua kelompok oleh karenanya ada banyak barang menumpuk yang tengah dipersiapkan. Jaket-jaket keselamatan terlihat berjemur di teras samping rumah, beberapa tiang bendera kecil berbentuk segitiga berwarna kuning juga terlihat tak jauh dari jaket terjemur, sepertinya akan digunakan untuk penanda titik-titik tertentu. Kami diajak masuk kebagian dalam ruangan, terlihat beberapa orang sedang memeriksa helm, tak jauh ada tempat untuk menyimpan dayung.

“Ini loh ada dayung seharga dua jutaan biasanya digunakan oleh atlit kami” Ujar bang Ritno sambil menunjukkan dayung berwarna hitam dan berbahan carbon kepada kami. Sementara ada banyak dayung-dayung lainnya yang berjejer di tempat penyimpanan. Dari peralatan yang dipersiapkan terlihat bahwa L.A Rafting tidak main-main dengan keselamatan para pengunjungnya. “Ada ga bang yang ikut main arung jeram tapi ga bisa berenang?” Tanyaku saat itu ketika melihat peralatan yang sedang dipersiapkan.

Dan ternyata ada, menurutnya untuk pengunjung yang awam dan tidak bisa berenang, akan ditawarkan paket dengan jalur yang pendek. Sementara, di L.A Rafting sendiri itu ada 3 jalur arung jeram yang sudah dipersiapkan. Jalur pendek, jalur sedang dan jalur yang panjang. Jarang sekali ada yang mengambil paket jalur yang panjang, biasanya juga adalah orang-orang yang memang sudah biasa dan terlatih, karena untuk rute tersebut, memakan waktu seharian hingga sore untuk menuntaskannya dan tentunya juga membutuhkan persiapan serta skipper yang lebih handal.

Sebagian koleksi dayung yang dimiliki L.A Rafting

Safety Jacket dan Perahu Karet yang dimiliki L.A Rafting

“Beberapa minggu yang lalu salah satu selebgram Pekanbaru ada loh main ngambil paket yang jalur pendek, dia ber 5 dengan temannya” Kata bang Ritno kemudian. Ternyata untuk bisa menikmati jeram sungai Batang Anai tidak mesti mengumpulkan banyak orang dan menggunakan banyak perahu. Kita bisa memesan paket yang setidaknya menggunakan satu perahu saja, “Sekitar 4 atau 5 orang sudah bisa jalan” katanya lagi.

Untuk saat ini pengunjung L.A Rafting setiap bulannya bisa sekitar 100 hingga 500an pengunjung, dan bertambah setiap bulannya. Saat pandemi lalu, paket-paket wisata untuk sementara ditutup, hal ini dimanfaatkan bang Ritno dan teman-temannya untuk melakukan perawatan baik terhadap alat-alat yang mereka miliki maupun dengan jalur jeram di sungai Batang Anai serta Jalur Tracking menuju Nyarai. Selain itu bang Ritno juga bersama teman-teman pemandunya juga turut serta dalam sosialisasi gerakan bermasker dan mensosialisasikan pentingnya PSBB kala itu. Hal ini tentunya juga berdampak signifikan pada penurunan kasus covid di daerah tempat bang Ritno tinggal.

Keterlibatan Masyarakat dalam Ekowisata Lubuk Alung

Wisata yang berkelanjutan adalah wisata yang melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya. Setelah keberhasilan pengelolaan paket wisata air terjun Nyarai, pola yang sama juga diterapkan dalam pengelolaan L.A Rafting. Karenanya bang Ritno tidak akan mendapat julukan sebagai transformer pembalak liar, beliau berhasil mengubah mindset dan sikap warga dikawasan hutan Gamaran untuk beralih profesi dari penebang liar menjadi pemandu dan pengelola wisata yang ada di daerah mereka.

Dalam paket wisata L.A Rafting sendiri, selain menggerakkan pemuda setempat untuk menjadi pemandu dan skipper, bang Ritno juga mengajak masyarakat sekitar lainnya untuk terlibat. Dalam paket-paket arung jeram yang menyusuri sungai Batang Anai, ada pemilik truck yang digunakan untuk mengantar dan menjemput pengunjung ke titik kumpul rafting. Hal ini karenakan rute menuju titik kumpul rafting tidak bisa ditempuh dengan kendaraan biasa, selain truck ataupun mobil-mobil 4WD.

Salah satu jalur pendek yang biasa direkomendasikan untuk keluarga atau pengunjung awam. Dipilih dengan jeram-jeram yang tidak terlalu berbahaya dan didampingi dengan skipper yang sudah memiliki lisensi.

Dan jika kita memesan paket rafting disini, itu sudah termasuk dengan makan siang. Nah, makan siang ini juga dipersiapkan oleh masyarakat sekitar. “Untuk yang mengambil paket biasanya kita kumpul pagi, sarapan, briefing singkat, kalau untuk beberapa perusahaan kadang ada yang minta disiapkan dengan kegiatan-kegiatan tambahan untuk bounding karyawan juga bisa kita siapkan. Nah untuk sarapan dan makan siang biasanya kita makan buruk-buruk aja, yang siapin masyarakat desa sini juga” Ujarnya. Makan buruk-buruk maksudnya bukan makanan yang jelek, melainkan makanan biasa yang disiapkan dan dimakan warga sana juga.

Keesokan hari kebetulan sudah ada pesanan sebanyak 150 paket makan siang, dan aku pun menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu rumah warga yang mempersiapkan makan siang kala itu.

Kesibukan warga mempersiapkan makan siang

Kesibukan warga mempersiapkan makan siang

Rumah warga yang ikut serta mempersiapkan makan siang.

Sambil berbincang dengan bahasa minang yang cukup halus dan aga sedikit sulit ku mengerti, ibu-ibu itu bercerita bahwa bang Ritno rutin memesan makan siang di tempat mereka, kadang-kadang bisa banyak kadang-kadang juga cuma lima bungkus tergantung jumlah pengunjung. Menurut ibu itu, ada beberapa rumah lainnya yang biasanya menyiapkan makanan, terutama jika makan siang dipesan dalam jumlah yang cukup banyak. Mereka biasanya menyiapkan di pagi hari untuk kemudian ketika sudah di infokan untuk diantar kan makan siangnya.

“Makan siang biasanya langsung di dekat sungai, nanti mereka berenti di tempat yang agak lapang untuk makan, kami biasanya akan mengantar langsung ke tempatnya, karena ga terlalu jauh” Ucap ibu itu. Sewaktu pandemi kemarin memang tidak ada tamu yang datang, tetapi sekarang sudah mulai lagi.

Serunya menyusuri sungai Batang Anai bersama L.A Rafting

Keberhasilan Ritno Kurniawan mengelola Ekowisata di Lubuk Alung

Menggerakkan pariwisata memang bukan sekedar berjualan paket wisata. Ada keterlibatan peran masyarakat, ninik mamak, pemangku adat, pemerintah dan juga pihak swasta seperti PT. Astra Internasional Tbk. Untuk bisa sampai ditahap memiliki ratusan pemandu serta kepercayaan dalam beberapa Desa Berseri Astra tentunya melibatkan kerja keras yang tidak sebentar.

Selain penebang liar, tim pemandu yang kini berada di dalam tim L.A Adventure juga ada beberapa orang yang dulunya juga berprofesi sebagai penambang batu dan pasir liar di sungai Batang Anai. Mereka yang dulu mendapatkan upah sekitar Rp 150.000 perminggu, kini bisa mendapat penghasilan sekitar 80.000 perhari yang tentunya lebih menguntungkan.

Dari 170 pemandu yang membantu mengelola Air Terjun Nyarai dan Juga L.A Rafting, 55 orang diantaranya sudah terverifikasi oleh Himpunan Pemandu Indonesia (HPI). Bang Ritno juga sudah mendapatkan status sebagai Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Hal ini lah yang disebut sebagai wisata berkelanjutan yang membawa kembali senyum Indonesia. Dimana lingkungan hutan terjaga, pemanfaatan warga lokal serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat daerah. Jika kawasan wisata daerah dimiliki dan dikelola warga lokal tentunya menjadikan desa-desa semakin berdaya, terjaga dan juga lestari.

Dukungan Astra dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

One comment

  1. Asikkk asikkk. seru banget ya, kak. Kami yang menunggu di mobil menanti kak athri dan bang andrew yang turun ke tempat warga. wkwkwkwkwk! Gudlaaaaaaaaaaaaaaaaaaak kak athriiiiii. Yuuuuu pankapan kita rafting.. xD

Leave a Reply

Your email address will not be published.