Surakarta dan alasan aku ingin kesana

Rasanya sudah lama tidak jalan-jalan berisi. Semenjak aku bergabung ke sebuah komunitas penikmat sejarah dan budaya di kota Pekanbaru beberapa tahun yang lalu, keingintahuanku atas daerah wisata Indonesia yang menyimpan sejarah begitu besar. Apalagi langkahku rasanya belum bisa bebas lepas dari kota ini. Berhubung tahun 2019 juga masih diawal, tak ada salahnya untuk memiliki Resolusi Traveling 2019 ya kan?.

Menyiapkan rencana perjalanan

Pekanbaru sendiri sudah puas ku jelajahi, mulai dari kawasan tuanya, hingga jejak-jejak Kesultanan Siak yang masih tersisa. Namun, rasa penasaranku masih jauh dari terpuaskan. Karena negara ini menyimpan begitu banyak destinasi wisata sejarah dan budaya yang berlimpah.

Sulit sebenarnya memutuskan satu destinasi dari sekian banyak pilihan yang dimiliki Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau (malah nyanyi) dan juga kawasan wisata yang sangat menggoda mulai dari wisata sejarah, alam, budaya, religi, kuliner rasanya sangat lengkap mulai dari kota hingga ke pelosok desa. Bahkan masing-masing kota di setiap provinsi di negara ini punya kisah-kisah menarik sendiri.

Pesona Nyarai dan Pensiunnya Para Pembalak Liar

“Jika tangan merubah takdir, bukit menjelma taman surgawi, kuyakin engkaulah tangan itu

Jika mata air mengalir, sudahi pekik pohon tua menjerit, dikaulah mata air itu”

– Dialog Dini Hari: Pohon Tua Bersandar

Sosok Ritno Kurniawan adalah salah satu ‘tangan merubah takdir’ itu. Sepulangnya dari perantauan di tanah Jawa, Ritno menelusuri keindahan kampungnya sendiri di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Hampir sebulan beliau kerap bersepeda mengelilingi kampungnya, mencoba mencari tahu keindahan-keindahan tersembunyi yang ada disana. Sampai akhirnya Ritno bertemu kembali dengan salah seorang sahabat lamanya Firdaus. Kepadanya Ritno menceritakan apa yang diangan angankannya tentang potensi wisata di kampung mereka.

Beberapa waktu setelahnya, Firdaus yang dulu merupakan senior Ritno di kegiatan Pramuka setuju untuk menemaninya menelusuri keindahan-keindahan tersembunyi yang ada di Lubuk Alung. Mereka pun mendatangi satu persatu lokasi wisata yang sudah dikenal masyarakat sebelumnya. Hingga kemudian mereka bertemu dengan pak Edi, salah seorang warga yang menginformasikan tentang keberadaan air terjun didalam hutan yang disebutnya Air Terjun Belek.

Green Canyon dari Kampar Hulu

Penatnya rutinitas kerja serta berbagai macam hal terkait kesibukan lainnya tentu saja bikin mood cepat sekali ngedropnya. Yang tugas belum kelar lah, yang rapat ini itu lah. Apalagi setelah makin padat dan ramainya kota Pekanbaru beberapa tahun belakangan.
Macet bukan lagi kosakata umum di Jakarta sana. Tapi anak SMA di Pekanbaru udah bisa pakai istilah “Aduh, sorry kejebak macet nih” Sebagai opsi alasan ketika datang telat kesebuah janji temu.
Jadi ya itu, setelah membuat janji dengan beberapa teman yang punya tingkat kejenuhan yang sama dengan alasan berbeda akhirnya sepakatlah untuk mencoba sebuah paket wisata menjelajahi Sungai Batang Kopu.
Setelah searching dan bertanya kemana-mana akhirnya terkumpullah data yang cukup untuk meyakinkan teman-temanku itu bahwa perjalanan ini ga bakal mengecewakan.